Home Berita Internasional Karikatur Nabi Muhammad Berbuntut Pemenggalan Seorang Guru di Paris

Karikatur Nabi Muhammad Berbuntut Pemenggalan Seorang Guru di Paris

242
0
SHARE
Polisi berjaga-jaga di depan sekolah tempat Samuel Paty mengajar di Paris. (Gambar:AFP)

Wasathiyyah.com, Paris – Pemuatan ulang karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo, sebuah media mingguan asal Paris, berbuntut panjang. Setelah sempat menimbulkan gelombang protes dan aksi penyerangan terhadap kantor media kontroversial tersebut, Jumat lalu (16/10) seorang guru menjadi korban pemenggalan.

Samuel Paty (47), nama guru itu, menjadi korban pemenggalan oleh AA, pemuda berusia 18 tahun yang merupakan pengungsi asal Chechnya. Paty dibunuh saat perjalanan pulang sehabis mengajar.

Pembunuhan ini diduga dilatarbelakangi aksi Paty yang menjadikan karikatur Nabi Muhammad sebagai bahan pembelajaran di kelas dalam materi kebebasan berbicara.

Aksi Paty ini sebenarnya telah menuai kritik dan kemarahan dari orangtua murid. Salah satu orangtua murid bahkan mengangkat kritiknya itu di media sosial Facebook. Ia juga membawa kasus guru Paty ini ke administrasi sekolah.

Ramainya persoalan ini di media sosial telah menarik perhatian publik Paris, termasuk bagi AA yang ternyata mencari sosok Paty dengan mendatangi langsung ke College du Bois d’Aulne, tempat Paty mengajar.

Tersangka pembunuh Paty, AA tewas tidak jauh dari lokasi penemuan jasad Paty. AA tewas karena terjangan timah panas polisi. Polisi mengatakan pihaknya terpaksa menembak karena AA dalam keadaan menggenggam pisau yang tak mau dilepaskannya.

Di lokasi kejadian itu polisi menemukan ponsel yang setelah diperiksa di dalamnya terdapat sebuah teks yang mengklaim bertanggungjawab atas serangan terhadap Paty. Bahkan foto Paty pun terdapat di ponsel itu.

Sebuah akun Twitter yang diyakini milik tersangka pun ditemukan memposting gambar kepala korban dengan tulisan berbunyi, “Aku telah mengeksekusi salah satu anjing neraka yang berani melecehkan Mohammad.”

Jaksa anti-teror Prancis, Jean-Francois Ricard mengatakan bahwa tersangka telah tinggal di Paris sejak 2008 dengan status sebagai pengungsi Chechnya bersama keluarganya. Dia lahir di Moskow pada 2002.

Presiden Prancis Emmanuel Marcon mengatakan kepada Fox News bahwa tindakan penyerangan ini sebagai ‘serangan teroris Islam’.

Atas kejadian ini, Kementerian Dalam Negeri Prancis berencana mengusir 231 orang asing yang berstatus merah dalam File of Alert for The Prevention of Terrorist Attacks (FSPRT). 

Menurut pejabat terkait, dari 231 nama itu termasuk di dalamnya 180 narapidana dan 51 orang lainnya yang mungkin akan segera ditangkap. FSPRT melaporkan jumlah total imigran sebanyak 850 orang. 231 nama yang akan dideportasi itu berkebangsaan Tunisia, Maroko dan Aljazair. (WST/RS/republika/tempo/reuters)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.