Home Berita Internasional Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar: ISIS Menjual Khilafah untuk Mencuci Otak Kaum Muda

Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar: ISIS Menjual Khilafah untuk Mencuci Otak Kaum Muda

113
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Cairo–Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Pusat di Kairo mengikuti dengan saksama perbincangan-perbincangan yang berkembang di media-media sosial mengenai penunjukan khalifah ISIS.

Dalam sebuah keterangan resmi yang dikeluarkan oleh OIAA di Kairo belum lama ini disebutkan bahwa ISIS masih menggunakan isu khilafah untuk menarik perhatian dan mencuci otak kaum muda Islam. ISIS menduga bahwa isu khilafah akan menarik perhatian umat Islam. Sebuah dugaan yang keliru, karena dunia saat ini telah mengetahui bahwa ISIS adalah sebuah organisasi yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar.

Orang yang memandang dengan jeli akan menyimpulkan bahwa ISIS telah kehilangan daya tarik dan kekuatannya dalam mempengaruhi anak-anak muda Islam setelah pasukan tentara ISIS mengalami serangkaian kekalahan di sejumlah wilayah Timur Tengah. ISIS telah hancur dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk menebus kekalahannya. Menyadari hal itu, belakangan ISIS kembali menggunakan isu khilafah sebagai ikon propagandanya untuk menarik perhatian orang-orang baru dan mengajak kaum muda umat Islam dari seluruh dunia untuk bergabung dengan ISIS.

Menurut OIAA, ketika ISIS menabuh genderang khilafah, itu sebenarnya hanya tipu muslihat belaka bahwa persoalan khilafah termasuk persoalan pokok agama, padahal bukan. Baik Al-Qur’an maupun Hadis Nabi saw. tidak ada satu pun perintah yang jelas mengenai keharusan penerapan sistem khilafah setelah Rasulullah saw. wafat. Orang yang meneliti dan mengkaji hadis-hadis tentang kepemimpinan (imamah) tidak akan menemukan penetapan sistem pemerintahan. Hadis-hadis tentang imamah hanya menyebut sejumlah kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemerintahan seperti menegakkan keadilan, menyerahkan pemerintahan kepada orang yang mampu dan layak, dan sebagainya. Itu artinya, tidak ada bentuk spesifik tertentu dalam pemerintahan Islam. Kondisi dan perkembangan masyarakatlah yang menentukan sistem apa yang lebih tepat untuk digunakan.

Setelah Rasulullah saw. wafat, para sahabat mengadakan pertemuan di balai Bani Sa’idah untuk memilih orang yang akan memimpin umat. Tidak terdetik dalam benak mereka ketika itu sistem khilafah maupun jabatan khalifah kecuali dalam batas makna kebahasaan saja. Salah satu arti kata khalifah adalah pengganti. Penetapan Abu Bahar sebagai pemimpin terjadi melalui pemilihan, pentuan Umar bin Khattab terjadi melalui penunjukan oleh Abu Bakar, kemudian sebelum Umar wafat dia membentuk satu komite terdiri atas enam orang sahabat Nabi untuk menentukan pemimpin penerusnya, dan komite itu pun akhirnya memilih Usman bin Affan. Setelah Usman r.a. terbunuh, mayoritas umat Islam memilih Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti. Setelah Ali terbunuh, umat membaiat Hasan bin Ali sebagai penerus, tetapi Hasan kemudian mundur dan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah. Setelah itu, Muawiyah memandang bahwa demi menghindari perbedaan dan konflik internal umat berkepanjangan pemerintahan itu dibatasi hanya pada keluarga Bani Umayyah. Terlihat jelas bahwa memang secara empirik tidak ada satu sistem yang baku dalam pemerintahan umat Islam. Andai saja ada sistem yang baku –seperti sistem khilafah yang digaungkan oleh ISIS- tentu saja para sahabat Nabi tidak akan berani mengubah sistem itu.

Karena itu, gagasan sejumlah organisasi dan pergerakan dalam tubuh umat Islam mengenai keharusan membentuk partai politik berdasarkan agama untuk merebut kekuasaan dan menganggap hal itu sebagai tujuan utama syariat Islam, dan dengan mengadopsi pemikiran Al-Mawdudi, Abdul Qadir Audah, dan Taqiyuddin An-Nabhani, tanpa mempertimbangkan situasi keilmuan dan keagamaan, itu adalah sebuah penyimpangan dari apa yang telah dianut oleh mayoritas umat Islam sepanjang zaman.

Baik, kita anggap sekarang ada keharusan seorang khalifah (pemimpin) umat Islam seluruh dunia, tetapi apakah pemimpin itu adalah Al-Baghdadi? Atau penggantinya yang bahkan namanya pun tidak banyak diketahui orang saat ini, apalagi profilnya? Kita tidak tahu siapa itu Al-Baghdadi. Siapa pula penggantinya. Latar belakangan keilmuan dan keagamanya apa. Lalu, apakah sebuah tindakan yang masuk akal jika orang yang diserahi tanggung jawab memimpin umat Islam dunia itu adalah orang yang tidak diketahui?

Pertanyaan berikutnya, siapa yang memilih Al-Baghdadi dan penerunya untuk memimpin seluruh umat Islam dunia? Siapa pula –dari umat Islam di berbagai negeri—yang menerima kekhalifahan Al-Baghdadi? Berapa banyak jumlah mereka jika dibandingkan dengan total populasi umat Islam dunia? Apakah dengan terwujudnya kekhalifahan seperti yang diusung oleh ISIS umat Islam kemudian menjadi bersatu?

Selain itu, kita juga bisa mengajukan pertanyaan: kegembiraan apakah yang dirasakan oleh umat Islam dan kekalahan apa yang dirasakan oleh kaum kafir dengan dideklarasikannya baiat kepada pemimpin yang tidak dikenal itu? Justru organisasi-organisasi semacam ISIS itu lebih banyak menimbulkan masalah dan kerusakan di banyak negeri berpenduduk muslim.

Organisasi semacam ISIS benar-benar telah merugikan dan merusak Islam ketika mereka melakukan aksi-aksi teror, membunuh orang secara serampangan, dan memperlihatkan wajah Islam yang tidak ramah. Akibatnya, orang justru lari menjauh dari Islam dan lebih memilih hidup tanpa agama, hidup sebagai ateis.

Yang juga cukup ironis, pemimpin ISIS yang tidak dikenal luas latar belakang keislamannya itu menamakan diri sebagai Hasyimi dan Qurasyi: Ibrahim Al-Baghdadi Al-Hasyimi Al-Qurasyi. Sangat bisa diduga bahwa penamaan seperti itu tidak lain adalah upaya menjual nash agama (hadis yang mengatakan bahwa pemimpin Islam berasal dari keturunan Quraisy). Mereka menduga bahwa dengan begitu akan mendapat legitimasi dari umat. Sebaliknya, hal itu justru menunjukkan kebodohan orang-orang di balik ISIS dan organisasi serupa.

Perlu diingatkan di sini bahwa yang dimaksud dengan “kepemimpinan berada di tangan Quraisy” itu bukan penunjukan suku itu untuk dijadikan pemimpin umat selama-lamanya, bukan pula berarti perintah tabarruk dengan suku Quraisy sebagai sukunya Nabi Muhammad saw. Bukan begitu! Latar belakang kepemimpinan Quraisy itu lebih karena memang pada masa itu seluruh kabilah Arab tunduk kepada Quraisy. Itu sesuai dengan maksud dan tujuan syariat Islam dalam hal kepemimpinan, yaitu adanya wibawa dan kekuatan sehingga memungkinkan untuk menjamin terlaksananya syariat agama dan kemaslahatan umat. Hadis Nabi saw. tentang kepemimpinan Quraisy itu sesuai dengan kondisi masyarakat pada waktu itu, bukan keharusan memilih pemimpin umat Islam sepanjang masa dari suku Quraisy.

Keterangan dari OIAA di Kairo itu juga mengingatkan umat Islam di seluruh dunia, terutama kalangan anak muda, untuk tidak mudah tertipu oleh propaganda organisasi sejenis ISIS. Untuk memperoleh keridaan Allah swt. tidak dengan cara membunuh orang secara serampangan. Tidak pula dengan cara-cara kekerasan. Kemaslahatan umat hanya bisa dicapai jika tercipta stabilitas sosial dan keamanan, bukan justru dalam keadaan perpecahan yang ditimbulkan oleh gerakan semacam ISIS.

Semoga Allah terus menjaga umat Islam dan neger-negeri muslim dari musibah besar ini. (WST/YNF/WOAG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.