Home Berita Internasional Pengakuan Dua Tentara Myanmar, Babak Baru Keadilan Bagi Rohingya

Pengakuan Dua Tentara Myanmar, Babak Baru Keadilan Bagi Rohingya

79
0
SHARE
Dua tentara Myanmar memberi pengakuan mengejutkan tentang pembantaian muslim Rohingya. (Gambar : tekdeeps)

Wasathiyyah.com, Washington – Dua tentara Myanmar yang membelot dan melarikan diri ke Bangladesh membuat pengakuan mengejutkan dalam sebuah rekaman video. Mereka adalah Myo Win Tun (33) dan Zaw Naing Tun (30).

Keduanya mengaku diperintahkan untuk melakukan pembantaian terhadap musim Rohingya di negara bagian Rakhine pada tahun 2017. Rekaman video ini dibuat pada Juli 2020 oleh Tentara Arakan, sebuah kelompok pembelot pemerintah yang kini beroposisi terhadap pemerintah Myanmar.

“Kami menghancurkan desa Muslim dekat desa Taung Bazar. Kami melaksanakan operasi pembersihan di malam hari sesuai perintah untuk menembak semua yang terlihat dan yang terdengar. Kami menguburkan total 30 jenazah dalam satu kuburan, “kata Myo Win Tun dalam keterangan videonya yang dikutip di CNN, Kamis (10/9).

Fortify Right, kelompok Hak Asasi Manusia yang berfokus pada masalah di Myanmar, mengatakan bahwa kedua prajurit tersebut diyakini sekarang sudah berada dalam tahanan Pengadilan Kriminal Internasional di Belanda yang memeriksa kekerasan terhadap Rohingya.

Masih menurut Fortify Right, Myo Win Tun mengaku dia dan timnya diperintahkan komandan mereka untuk melakukan serangan pada sebuah desa muslim di Kotapraja Buthidaung pada bulan Agustus 2017. Dia mengatakan dalam satu kali operasi militer mereka membunuh dan mengubur 30 orang, terdiri dari delapan wanita, tujuh anak-anak dan 15 pria termasuk di dalamnya yang berusia lanjut.

Win Tun juga mengakui bahwa komandannya memerintahkan untuk memusnahkan semua ‘Kalar’, sebutan untuk merendahkan Rohingya, dan menembak mereka di dahi sebelum menendang mereka satu demi satu ke dalam lubang. Mereka juga memperkosa kaum wanita sebelum membunuhnya.

Masih dari pengakuan Win Tun, setiap kali mereka selesai menghancurkan sebuah desa, mereka akan tinggal di sana selama dua minggu, kemudian merangsek ke desa tetangganya dan melakukan pembantaian serupa. Total ada kurang lebih 60 sampai 70 orang yang dihabisi di setiap desa, kata Win Tun.

Zaw Naing Tun menuturkan pengakuan yang tak jauh berbeda. Dia mengaku telah memusnahkan 20 desa berpenduduk muslim di Rakhine.

Dia mengatakan telah menghancurkan rumah, pertokoan, menjarah uang dan emas serta membunuh sekitar 80 orang bersama timnya. Ia juga mengakui pernah berjaga-jaga ketika atasannya memperkosa seorang wanita lalu membunuhnya.

Fortify Rights menyambut baik pengakuan dua tentara Myanmar ini sebagai sebuah langkah maju dalam upaya membela hak asasi warga Rakhine dan menyeret militer Myanmar di hadapan pengadilan kriminal (The International Criminal Court / ICC).

Payam Akhavan, seorang pengacara asal Kanada yang mewakili Bangladesh dalam gugatan terhadap Myanmar di ICC, mengatakan bahwa kedua tentara itu melarikan diri ke pos penjagaan di perbatasan dan meminta perlindungan otoritas Bangladesh. Kemudian mereka mengakui telah melakukan pembantaian di Rakhine pada Agutus 2017.

“Yang bisa saya katakan adalah bahwa keduanya sekarang sudah tidak lagi berada di Bangladesh,” katanya.

Juru bicara tentara Arakan, Khine Thu Kha, mengatakan bahwa kedua tentara itu telah membelot dari pemerintah Myanmar dan kini keduanya tidak ditahan sebagai tawanan perang.

Namun Thu Kha tidak berkomentar lebih lanjut di mana keberadaan kedua tentara pelarian itu saat ini. Dia hanya mengatakan bahwa keduanya sudah berkomitmen untuk keadilan bagi semua korban militer Myanmar.

Myanmar berulang kali membantah tuduhan genosida terhadap etnis Rohingya. Mereka bersikukuh bahwa militernya hanya menargetkan pemberontak Rohingya yang telah melakukan penyerangan pos polisi serta memadamkan terorisme.

Kasus ini sebenarnya sempat terhenti cukup lama di ICC dikarenakan Myanmar bukan penandatangan Statuta Roma yang menjadi basis ICC. Tapi dengan adanya pengaduan dari Bangladesh sebagai bagian dari Statuta Roma maka ICC menegaskan memiliki yurisdiksi atas kasus yang menimpa etnis Rohingya.

Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi muncul di pengadilan tahun lalu untuk membela negaranya menghadapi gugatan dari Gambia. Dan saat ini gugatan genosida juga datang dari Kanada dan Belanda.

Laporan kekerasan militer Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya di negara bagian Rakhine sudah muncul sejak 2016. Lebih dari 740 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh demi menghindari kekerasan militer. PBB menyebut tindakan militer Myanmar sebagai genosida.

Doctors Without Borders memperkirakan ada 6.700 orang Rohingya yang tewas dalam bulan pertama tindakan militer Myanmar, termasuk di dalamnya 730 balita. (WST/RS/CNN/Aljazeera)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 + 19 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.