Home Berita Internasional MoU Ini Menjadi Jalan untuk Pengakuan Islam sebagai Agama Resmi di Italia

MoU Ini Menjadi Jalan untuk Pengakuan Islam sebagai Agama Resmi di Italia

404
0
SHARE
Umat Islam Italia menunaikan shalat Idul Fitri dengan menerapkan protokol kesehatan Covid 19 di kota Roma. (Gambar : Reuters)

Wasathiyyah.com, Roma – Persatuan Komunitas dan Organisasi Islam di Italia (Unione delle Comunità e Organizzazioni Islamiche Italia, UCOII) menandatangani MoU atau nota kesepahaman dengan pemerintah Italia mengenai kebijakan layanan spiritual dan pengadaan sarana peribadatan bagi para narapidana muslim di penjara Italia.

MoU ini menyusul perjanjian yang ditandatangani bulan lalu oleh Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte dengan perwakilan komunitas Islam di Italia tentang pembukaan kembali masjid pasca masa karantina nasional akibat Coronavirus yang diberlakukan negara itu.

Pewakilan muslim menilai nota kesepahaman yang ditandatangani kali ini sebagai langkah maju menuju pengakuan terhadap Islam sebagai agama resmi di Italia.

Menurut Kementerian Kehakiman Italia, hampir 10.000 dari 60.000 narapidana yang ditahan di penjara Italia adalah orang asing, yang sebagian besar berasal dari Maroko, Tunisia, dan Rumania. Angka-angka resmi terbaru menunjukkan bahwa 7.200 narapidana adalah muslim yang taat, dengan 97 dianggap imam ketika mereka membimbing doa di penjara dan 44 orang mengatakan mereka masuk Islam ketika ditahan.

Namun, hanya di beberapa penjara Italia saja narapidana muslim diberikan ruang khusus untuk shalat dan berdoa, itupun kapasitasnya tidak mencukupi kebutuhan. Sebaliknya, setiap penjara di Italia memiliki fasilitas Katolik Roma di mana layanan keagamaan secara teratur dipegang oleh para pastor yang dibayar oleh negara Italia.

MoU terbaru ini ditandatangani oleh Ketua Departemen Lembaga Pemasyarakatan Italia, hakim Bernardo Petralia, dengan Presiden UCOII Yassine Lafram.

“MoU ini menerapkan prinsip kebebasan beragama untuk semua warga negara yang ditetapkan dalam Konstitusi Republik Italia, yang menjamin hak tahanan untuk mengakui agama mereka juga saat mereka ditahan. Mempertimbangkan meningkatnya multietnisitas populasi penjara Italia, adalah penting untuk memungkinkan setiap agama dianut dengan cara yang benar,” kata sebuah pernyataan dari Kementerian Kehakiman Italia.

Pada praktiknya, UCOII akan memberikan rekomendasi daftar para imam yang akan menjadi pembimbing spiritual bagi para tahanan muslim itu. UCOII juga akan mengatur penempatan setiap imam dan area tugasnya. Rekomendasi ini akan diserahkan kepada Departemen Lembaga Pemasyarakatan Italia.

Karena belum ada perjanjian atau hukum resmi yang mengatur sepenuhnya hubungan antara negara Italia dan komunitas Islam di negara itu, maka nama-nama imam dalam daftar harus diserahkan juga kepada Kementerian Dalam Negeri sehingga mereka dapat menerima otorisasi resmi untuk melakukan tugas mereka di dalam penjara.

Lafram mengatakan bahwa ia sangat puas dengan nota kesepahaman dengan pemerintah Italia ini.

“Dengan protokol baru ini, dimungkinkan untuk meminta imam memimpin doa di setiap penjara di Italia. Ini adalah hasil luar biasa yang diperoleh sejauh ini untuk proyek percontohan yang telah kami lakukan dalam lima tahun terakhir di delapan penjara Italia,” kata Lafram.

Sejak 2015, beberapa penjara di Italia sudah memiliki ruang khusus untuk shalat dan berdoa bagi tahanan muslim. Namun, mereka tidak memiliki seorang imam yang kapabel untuk membimbing mereka berdoa. Kecuali pada masa-masa tertentu seperti bulan Ramadhan.

Namun, pada Ramadhan kemarin para tahanan muslim itu sama sekali tidak mendapatkan bimbingan spiritual dari imam yang khusus dikarenakan adanya larangan kunjungan akibat Coronavirus untuk mencegah penyebaran virus di dalam penjara.

“Bantuan spiritual kepada para tahanan tentu merupakan bagian dari proses reintegrasi ke dalam masyarakat sipil, sebagaimana dinyatakan dalam Konstitusi Republik Italia,” kata Lafram kepada kantor berita Italia ANSA.

“Dengan perjanjian ini, kami bertujuan untuk mempromosikan rehabilitasi sosial narapidana, juga untuk menghindari fenomena radikalisasi yang dapat dipicu oleh kondisi kebencian umum terhadap masyarakat,” tambahnya.

Lafram berharap bahwa perhatian yang lebih besar terhadap kebutuhan komunitas Islam di seluruh Italia pada akhirnya akan mengarah pada pengakuan formal agama Islam di negara itu. Dia berterima kasih kepada Menteri Kehakiman Alfonso Bonafede karena tidak menunjukkan prasangka terhadap komunitas Islam di Italia.

“Ini adalah langkah penting dalam konteks kolaborasi dan sinergi yang semakin besar antara komunitas agama kami dan negara Italia untuk kepentingan umum kesejahteraan negara,” katanya. (WST/RS/arabnews)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.