Home Berita Internasional ASPI Sebut Muslim Uighur Alami ‘Kerja Paksa’ di Pabrik Brand Ternama Dunia...

ASPI Sebut Muslim Uighur Alami ‘Kerja Paksa’ di Pabrik Brand Ternama Dunia di China

93
0
SHARE
Pabrik Taekwang termasuk yang mempekerjakan Muslim Uighur untuk membuat sepatu. (Foto:BBC)

Wasathiyyah.com, Canberra – Laporan Australian Strategic Policy Institute (ASPI) terkait muslim Uighur baru-baru ini menggegerkan banyak pihak.

ASPI melaporkan bahwa selama ini ribuan muslim Uighur di China bekerja di bawah keterpaksaan di pabrik-pabrik beberapa brand ternama dunia seperti Apple, Dell, Nike, dan lainnya.

ASPI mengungkap bahwa pemerintah China menahan sekitar satu juta muslim Uighur di kamp-kamp yang secara resmi disebut sebagai tempat yang bertujuan melawan ekstrimisme.

Laporan ASPI ini diterbitkan beberapa saat setelah pejabat China menyampaikan kepada wartawan pada Desember lalu bahwa sekelompok minoritas di dalam kamp dinyatakan ‘lulus’.

ASPI memperkirakan antara 2017 dan 2019 ada lebih dari 80.000 etnik Uighur dipindahkan dari wilayah otonomi Xinjiang untuk bekerja di pabrik-pabrik di seluruh China.

Menurut laporan itu, beberapa dari mereka langsung di kirim dari kamp tahanan.

Menurut ASPI warga Uighur dipidahkan melalui skema transfer buruh yang dijalankan oleh pemerintah pusat, bernama Xinjiang Aid.

Menurut laporan tersebut, pabrik-pabrik tersebut merupakan bagian dari rantai pasok dari 83 merek global terkenal termasuk Nike, Apple dan Dell.

Laporan ini mengatakan “sangat sulit” bagi Muslim Uighur untuk menolak atau melarikan diri dari penugasan kerja ini, karena adanya ancaman “penahanan semena-mena” yang menghantui mereka.

Laporan ini menambahkan adanya bukti bahwa pemerintah lokal dan perantara privat “dibayar per kepala” oleh pemerintah Xinjiang untuk mengatur penugasan, yang disebut ASPI sebagai “fase baru represi terus menerus dari pemerintah China” terhadap Muslim Uighur.

“Laporan kami memperjelas bahwa perampasan yang terjadi pada Muslim Uighur dan etnis minoritas lain di Xinjiang punya ciri yang jelas sebagai eksploitasi ekonomi,” kata salah satu penulis laporan Nathan Ruser kepada BBC.

“Kami berhasil mengungkap hal ini dari rantai pasokan global yang selama ini tersembunyi”.

Laporan mengenai kamp tahanan di Xinjiang ini pertamakali muncul tahun 2018.

Pihak berwenang China megnatakan itu merupakan “pusat pelatihan keterampilan” yang dipakai untuk melawan ekstremis keagamaan.

Namun bukti-bukti memperlihatkan banyak orang yang ditahan karena memperlihatkan agama dan keyakinan mereka dengan melakukan salat, berdoa atau memakai jilbab, atau memiliki hubungan dengan negara luar seperti Turki.

Beijing menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat terkait hal itu.

Media pemerintah China mengatakan kesertaan dalam skema perpindahan ini bersifat sukarela.

Pejabat menyangkal adanya “kerja paksa” untuk keperluan komersial buruh-buruh dari Xinjiang ini, menurut laporan ASPI.

Pekerja berjalan di luar pagar tempat yang disebut secara resmi sebagai pusat pelatihan ketrampilan di Dabancheng di Xinjiang, September 2018. (Foto:Reuters)

Di mana mereka bekerja?

ASPI mengatakan telah mengidentifikasi 27 pabrik di sembilan provinsi di China yang menggunakan buruh yang ditransfer dari Xinjiang sejak 2017.

Di pabrik-pabrik itu, ASPI menyatakan Muslim Uighur umumnya dipaksa tinggal di asrama terpisah, belajar bahasa Mandarin dan menjalani “pelatihan ideologi” di luar jam kerja.

Mereka juga diawasi terus menerus dan dilarang menjalankan praktik keagamaan.

Menurut ASPI, perusahaan-perusahaan China dan luar negeri “mungkin tanpa sadar” terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.

ASPI menyerukan agar mereka melakukan “pemeriksaan segera dan menyeluruh” terkait pelaggaran hak asasi manusia ini di pabrik-pabrik mereka di China.

Surat kabar Washington Post mengunjungi satu pabrik yang disebutkan dalam laporan, yang memproduksi sepatu untuk perusahaan raksasa olah raga Nike.

Kata mereka, pabrik itu mirip penjara, dilengkapi pagar berduri, menara pengawas, kamera dan pos polisi.

“Kita bisa jalan-jalan di sini, tapi tak bisa kembali ke Xinjiang,” kata seorang perempuan Uighur kepada Washington Post di pintu gerbang pabrik itu di kota Laixi.

Nike mengatakan kepada Washington Post mereka “berkomitmen untuk menegakkan standar internasional ketenagakerjaan” dan pemasok mereka “dilarang menggunakan segala jenis penjara kerja paksa, kerja terikat dan kuli kontrak”.

Apple mengatakan mereka “mengambil semua langkah untuk memastikan bahwa semua dalam rantai pasokan mereka diperlakukan dengan hormat dan penghargaan yang selayaknya mereka dapatkan”.

Sementara itu Dell mengatakan mereka akan mengecek temuan tersebut. (WST/RS/BBC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.