Home Berita Internasional Presiden Mesir El Sisi Telepon Presiden Macron Terkait Gejolak Prancis

Presiden Mesir El Sisi Telepon Presiden Macron Terkait Gejolak Prancis

207
0
SHARE
Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi. (Gambar : madote)

Wasathiyyah.com, Kairo – Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi menelepon Presiden Prancis Emmanuel Marcon pada Senin (02/11), untuk membicarakan kondisi terkini pasca rangkaian serangan di Prancis yang dipicu polemik kartun Nabi Muhammad.

Dalam panggilan telepon tersebut Presiden El Sisi menegaskan kepada Marcon bahwa harus dibedakan antara Islam dengan tindakan teroris yang mengatasnamakan agama. Demikian dikatakan juru bicara kepresidenan Mesir Bassam Radi.

“Presiden menekankan perlunya untuk sepenuhnya membedakan agama Islam yang mengajarkan perdamaian, toleransi dan penolakan atas kekerasan, dengan tindakan teroris yang dilakukan oleh mereka yang mengklaim dirinya sebagai muslim,” papar Presiden El Sisi kepada Marcon.

“(Islam) tidak ada hubungannya dengan tindakan teror seperti itu dalam berbagai macam bentuknya. Pelaku teror bahkan tidak mendapatkan pembenaran atas perbuatannya dari agaman manapun,” tambah El Sisi melalui sambungan telepon.

Presiden El Sisi juga mengemukakan pentingnya dilakukan diseminasi nilai-nilai hidup berdampingan dan toleransi di antara umat beragama melalui dialog agar saling memahami, saling menghormati dan saling menjaga diri agar tidak merugikan umat lain, ungkap juru bicara Radi.

Dalam sambungan telepon itu Presiden El Sisi menjelaskan bahwa Mesir terus mengambil peran dalam konteks ini dengan terus mengantisipasi berkembangnya kelompok-kelompok teroris dan pihak-pihak yang mendukung mereka dari upaya mendistorsi citra Islam yang damai.

Pembicaraan telepon tersebut juga menyinggung sejumlah masalah lain yang menjadi perhatian bersama dalam konteks hubungan kedua negara seperti konflik Libya, kata Radi.

Presiden Prancis Emanuel Marcon sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak akan mundur dalam mendukung hak menggambar karikatur sebagai bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin di negaranya, setelah pembunuhan yang menimpa guru sejarah Samuel Paty karena menampilkan karikatur nabi Muhammad di hadapan murid-muridnya.

Pernyataan Marcon ini sontak memicu kemarahan dan protes dari umat Islam di berbagai negara. Seruan boikot produk Prancis semakin gencar tak terbendung di negara-negara berpenduduk muslim baik di Timur Tengah maupun di Asia.

Dalam pidato peringatan Maulid Nabi Muhammad pada 30 Oktober lalu, Presiden El Sisi mengecam pihak manapun yang menghina dan melecehkan Nabi Muhammad melalui gambar visual dengan alasan kebebasan berekspresi. El Sisi menuntut agar tindakan seperti itu segera dihentikan karena menyinggung perasaan umat Islam sedunia.

“Kami sebagai muslim menilai bahwa penghinaan terhadap Nabi Muhammad merupakan penodaan terhadap nilai-nilai agama kami. Jika anda tidak percaya, itu adalah hak anda. Tapi, bagaimana dengan perasaan miliaran orang di dunia yang tersakiti?” kata El Sisi.

Dalam peringatan Maulid Nabi tersebut, Grand Syaikh Al Azhar Syaikh Ahmad Al Thayyeb menegaskan, “Jika Nabi Muhammad Saw. tidak diutus, maka umat manusia akan tetap berada dalam keadaan gelap gulita.”

Sehubungan dengan permasalahan ini, Presiden El Sisi menerima panggilan telepon dari Kanselir Jerman Angela Markel pada Senin (02/11). Keduanya membahas langkah-langkah menghadapi terorisme dan ideologi ekstrimis.

Kanselir Jerman mengemukakan dukungan Uni Eropa untuk menjalin kerjasama dengan Al Azhar sebagai institusi keislaman moderat dan sangat berpengaruh di dunia dalam upaya membangun perdamaian. (WST/RS/egypttoday)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 + 18 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.