Home Berita Internasional Korban Kebakaran Hutan Australia Tolak Salami Perdana Menteri

Korban Kebakaran Hutan Australia Tolak Salami Perdana Menteri

107
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Jakarta — Seorang warga korban kebakaran hutan Australia enggan bersalaman dengan Perdana Menteri Scott Morrison saat berkunjung ke lokasi terdampak pada Kamis.

Scott Morrison terpaksa mengungsi dengan mobil yang dikemudikan sopirnya saat berkunjung ke kota Cobargo, di New South Wales, tempat seorang ayah dan anak laki-laki meninggal dalam kebakaran hebat pada Malam Tahun Baru.

Scott Morrison dikritik sebelum Natal karena berlibur ke Hawaii ketika kebakaran hutan melanda Australia.

Dikutip dari Daily Mail, 2 Januari 2019, seorang perempuan menolak untuk menjabat tangan Morrison, saat dia berjanji menawarkan lebih banyak dukungan kepada sukarelawan pemadam kebakaran dan lainnya berteriak: “Kamu idiot.”

Sebuah video tentang kunjungan memalukan Morrison ke Cobargo secara luas viral di media sosial.

Perdana menteri telah berusaha meningkatkan citra publiknya setelah dikritik penanganannya terhadap krisis termasuk mengambil liburan rahasia di Hawaii saat kebakaran hutan berkobar.

Dia diteriaki penduduk bahwa dia harus malu pada dirinya sendiri, sementara yang lain memanggilnya “Bajingan” karena meninggalkan negara yang terbakar.

Dalam salah satu cuplikan video yang dibagikan oleh 9News, seorang warga setempat menolak untuk menjabat tangannya sampai Morrison tersebut menawarkan lebih banyak bantuan kepada sukarelawan pemadam kebakaran.

“Saya hanya menjabat tangan Anda jika Anda memberi lebih banyak dana untuk RFS (Pemadam Kebakaran) kami,” kata perempuan.

Sebaliknya, Morrison mengangkat tangannya dan menjabatnya sendiri sebelum pergi.

“Begitu banyak orang kehilangan rumah,” kata perempuan itu sambil menahan air mata.

Dia dihibur oleh pria lain ketika perdana menteri pergi. “Kami butuh lebih banyak bantuan,” teriaknya.

Perempuan lain dari kota itu, yang membawa kambing kesayangannya saat kunjungan, memberi tahu Morrison bahwa kota kecil itu dilupakan selama krisis.

“Ini tidak adil,” teriaknya. “Kami benar-benar dilupakan di sini. Setiap kali daerah ini terkena banjir atau kebakaran, kami tidak mendapatkan apa-apa.”

“Jika kita tinggal di Sydney atau di Pantai Utara, kita akan dibanjiri dengan sumbangan dan bantuan darurat.”

“Anda tidak akan mendapatkan suara apa pun di sini, sobat. Siapa yang memilih Liberal di sini? Tidak ada,” sahut yang lain.

“Anda mengendalikan dana, dan kami dilupakan,” tambah seorang perempuan.

Penduduk tersebut berduka karena kehilangan peternak sapi perah, Patrick Salway, 29 tahun, dan ayahnya Robert, 63 tahun, yang meninggal setelah mati-matian berusaha menyelamatkan rumah mereka dari kobaran api.

Mayat mereka ditemukan oleh istri Salway, Renee, yang sedang mengandung anak kedua pasangan itu.

Morrison kemudian mengatakan kepada ABC bahwa dia tidak terkejut dengan sambutan kasar penduduk Cobargo.

“Dan, itulah sebabnya saya datang hari ini, untuk berada di sini, untuk melihatnya sendiri, menawarkan kenyamanan apa yang saya bisa.”

“Tapi Anda tidak bisa selalu ada dalam setiap keadaan, saya pikir semua orang mengerti itu,” katanya.

Sementara itu, Australia bersiap untuk risiko kehancuran lebih lanjut.

Dilaporkan CNN, negara bagian New South Wales telah mengumumkan status darurat selama tujuh hari. Kenaikan suhu hingga 46 derajat Celsius diperkirakan akan memicu kebakaran hutan Australia lebih dahsyat, yang sejauh ini telah menewaskan 18 orang. (WST/YN/tempo.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.