Home Berita Internasional Masjid Babri Dihancurkan, Pelakunya Divonis Bebas

Masjid Babri Dihancurkan, Pelakunya Divonis Bebas

182
0
SHARE
Umat muslim India menunaikan shalat Idul Fitri di antara puing masjid Babri yang hancur oleh aksi massa pada 6 Desember 1992. (Doc. Istimewa)

Wasathiyyah.com, New Delhi РPengadilan India pada Rabu (30/9) menjatuhkan vonis bebas terhadap 32 pelaku perusakan  masjid Babri yang masih hidup. Pengadilan berdalih bahwa aksi perusakan yang terjadi pada 6 Desember 1992 tersebut adalah aksi massa yang tak teridentifikasi dan spontan alias tidak direncanakan.

Atas keputusan ini, warga muslim India mengungkapkan rasa kecewa dan menyatakan banding. Badan Hukum Pribadi Muslim India (AIMPLB) menegaskan bahwa vonis bebas terhadap 32 pelaku perusakan itu jauh dari rasa keadilan.

“Apapun alasan pembebasannya, banyak dari kita telah menyaksikan fakta lewat foto dan video rekaman perusakan itu. Siapa saja yang menjadi bagian dari aksi itu sudah menjadi rahasia umum,” kata Sekjen AIMPLB Maulana Mohamed Wali Rahmani seperti dilansir Hindustan Times,¬†Kamis (1/10).

Pada tahun lalu Mahkamah Agung India telah mengakui bahwa aksi perusakan itu merupakan pelanggaran berat terhadap hukum. Terdapat 850 saksi mata dan lebih dari 7.000 dokumen dalam berbagai macam bentuk yang membuktikan bahwa perusakan Masjid Babri dilakukan secara terencana.

“Umat Islam kehilangan rasa percaya kepada sistem. Mereka merasa terpojok dan merasa partai politik, institusi, dan media telah mengecewakan mereka. Masyarakat merasa sedih,” kata Asim Ali, peneliti di Center of Policy Riset, sebagaimana dilansir BBC,¬†Kamis (1/10).

Masjid Babri merupakan masjid bersejarah peninggalan kekaisaran Mughal dari abad ke-16, terletak di kota Ayodhya, India. Masjid ini menjadi situs terpenting umat Islam India. Pada akhir tahun 1992 masjid ini diserang dan dihancurkan oleh lebih dari 100 ribuan orang dari kalangan nasionalis India. Massa yang melakukan aksi ini berdalih bahwa masjid Babri berdiri di atas lahan yang dahulunya adalah kuil Hindu.

Vonis bebas ini menambah daftar panjang perlakukan diskriminatif pemerintah India di bawah Narendra Modi terhadap warga muslim. Bahkan warga muslim mengatakan pada era pemerintahan Modi ini mereka merasa terhina sepanjang sejarah India yang merdeka pada 1947.

Sebelumnya, warga muslim India dikecewakan dengan pemberlakukan undang-undang kewarganegaraan (Citizenship Amandement Act) di mana dengan undang-undang ini pemerintah mempercepat pemberian hak kewarganegaraan kepada pendatang yang sudah berada di India sebelum 31 Desember 2014, kecuali pendatang beragama Islam. Peresmian undang-undang ini memicu aksi protes yang berujung bentrokan dan menimbulkan korban jiwa.

Tak hanya itu, yang terbaru pemerintah Modi menuduh warga muslim sebagai penyebar Covid 19. Tuduhan ini dilemparkan setelah Jamaah Tabligh mengadakan pertemuan di New Delhi.

Warga muslim India juga dikucilkan dari kehidupan keseharian. Mereka umumnya tinggal di pinggiran kota yang kumuh dan rata-rata tak memiliki pekerjaan tetap. Hanya 8% warga muslim perkotaan yang memiliki gaji tetap, kurang dari dua kali rata-rata nasional, kata satu laporan.

Jumlah warga muslim yang masuk kepolisian pun tak sampai 3% pada 2016. Padahal populasi muslim India mencapai 14% dari populasi nasional.

Keterwakilan muslim di parlemen India pun mengalami penurunan terus menerus, dan sekarang di bawah 5% untuk majelis rendah, berkurang dari angka 9% pada tahun 1980. Ketika BJP, partainya Modi, berkuasa pada tahun 2014, itulah kali pertama partai menang tanpa seorang pun anggota parlemen Muslim.

Terkait keputusan bebas pengadilan India untuk para pelaku perusakan masjid Babri, seorang ulama Syiah Maulana Kalbe Jawad Naqvi menyatakan penolakannya atas vonis itu dan mendukung upaya banding yang akan dilakukan warga muslim India. (WST/RS/bbc)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.