Home Berita Internasional Kemerdekaan Pers Semakin Terancam di India

Kemerdekaan Pers Semakin Terancam di India

147
0
SHARE
Narendra Modi, tengah, bersama aktivis Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), badan induk BJP, dalam sebuah acara di Ahmedabad, Gujarat. (Foto / Media Sosial)

Wasathiyyah.com, New Delhi – Peliputan berita di India tidak pernah tanpa resiko. Para wartawan yang meliput peristiwa kerusuhan Selasa lalu di New Delhi mengatakan bahwa resiko itu semakin memburuk.

Anindya Chattopadhyay, seorang fotografer untuk surat kabar Times of India, mengatakan bahwa ketika ia tiba di lokasi kerusuhan Selasa, seorang pria mendekatinya, menawarkan untuk meletakkan tilak, sebuah tanda yang menunjukkan seseorang adalah Hindu, di dahinya. Pria itu mengatakan itu akan membuat pekerjaannya lebih mudah.

Chattopadhyay menolak, tetapi kemudian, setelah dia buru-buru mengambil gambar sebuah gedung terbakar, dia didekati oleh sekelompok orang yang menuntut untuk mengetahui apakah dia seorang Hindu atau Muslim, mengancam akan melepas celananya untuk memeriksa apakah dia disunat berdasarkan kebiasaan Muslim.

“Saya melipat tangan dan memohon agar saya pergi, mengatakan saya hanya seorang fotografer rendahan,” kenang Chattopadhyay.

Chattopadhyay mengatakan bahwa di bawah pemerintahan Modi para wartawan kerap menjadi sasaran intimidasi. “Para penyerang lebih berani untuk menyerang secara terbuka tanpa ada rasa takut,” katanya.

Dikabarkan bahwa dalam kerusuhan selasa lalu itu seorang wartawan tertembak tapi nyawanya bisa diselamatkan. Wartawan lain mengalami kekerasan di wajahnya hingga giginya rontok.

Wartawan lain memberi kesaksikan sekelompok massa Hindu berupaya mencegah mereka saat mengambil gambar, mendokumentasikan perusakan dan aksi kekerasan lainnya.

Pihak berwenang sendiri belum memberikan pernyataan resmi tentang apa pemicu bentrokan selama 72 jam di hari Selasa itu yang mengakibatkan 42 orang tewas dan ratusan lainnya terluka, meski pada kenyataannya ketegangan antara umat Islam dan Hindu di India terus bergulir sejak disahkannya undang-undang kewarganegaraan baru.

Orang-orang kerap kali menuntut jurnalis untuk membuktikan apa agamanya. Fenomena ini mencuat sejak konflik kelam tahun 2002 di Gujarat, negara bagian tempat Modi berasal dan ia menjadi pejabatnya ketika itu.

Kerusuhan besar pecah di Gujarat ketika sebuah kereta yang dipenuhi peziarah Hindu terbakar dan mengakibatkan 60 orang tewas. Sekelompok umat Hindu menduga kereta sengaja dibakar oleh warga muslim, karena saat itu memang sedang terjadi konflik antar dua pemeluk agama ini yang dipicu sengketa lahan tempat ibadah. Dan, lokasi terbakarnya kereta itu mayoritas penduduknya adalah muslim.

Gerakan balas dendam pun meletus. Lebih dari 1.000 orang, sebagian besarnya muslim, terbunuh di negara bagian itu. Padahal pada Januari 2005, berdasarkan penyelidikan, Hakim Pengadilan Tinggi India Umesh Chandra Banerjee menyatakan kebakaran kereta Sabarmati Express di Gujarat terjadi bukan karena ulah warga Muslim, tapi murni kecelakaan.

Modi dituduh mendukung secara diam-diam kekerasan terhadap umat Islam saat itu sehingga Amerika pun melarang Modi masuk ke wilayahnya. Meski kemudian pengadilan membebaskan Modi dari segala tuntutan dan larangan perjalanan atasnya pun dicabut.

Ashutosh Varshney, seorang profesor da sejawaran India di Brown University, mengatakan atas segala kritik yang datang dari dunia internasional terhadap Modi saat ini, para pendukung Modi menyalahkan para wartawan.

“Tepat sejak 2002, nasionalis India memandang jurnalis sebagai bagian dari masalah,” ungkap Vashney.

Vashney mengatakan bahwa Modi dan pengikutnya percaya bahwa media yang kritis bisa mengganggu rencana mereka untuk membangun negara Hindu.

Sedangkan Kuldeep Dhatwalia, juru bicara pemerintah dan direktur Biro Informasi Pers Federal, mengatakan dia tidak mengetahui adanya keluhan tentang kemerdekaan pers.

Paramiliter India berpatroli di jalanan New Delhi pada Kamis (27/02) pasca kerusuhan.

Arvind Gunasekar, seorang reporter untuk New Delhi Television News, tidak dapat bekerja lagi sampai ia selesai menjalani operasi untuk memperbaiki rahangnya yang hancur ketika kerusuhan.

Saat itu, kerusuhan sedang pecah di hari Selasa (25/02). Ia dan beberapa rekannya sedang berdiri di atas jalan layang meliput kerusuhan yang sedang terjadi di bawah menggunakan ponsel.

Ketika itu ia merekam detik-detik sekelompok perusuh Hindu sedang merobohkan dinding makam muslim. Lalu seorang perusuh yang melihatnya langsung menarik kerah bajunya dan memanggil perusuh lain untuk bergabung.

Seketika para perusuh itu mendaratkan pukulan dan tendangan di wajah dan tubuhnya sambil meneriakkan yel-yel pro Hindu. Saurabh Sukhla, rekan Gunasekar segera memberi bantuan. Ia menunjukan kalung tasbih yang dikenakan Gunasukar sebagai bukti bahwa orang yang sedang mereka pukuli itu beragama Hindu dan berkasta tinggi.

“Saya harus mengeluarkan kartu itu karena jika tidak maka mereka bisa membunuhnya. Mereka hampir saja melemparkan Gunasekar dari atas (jalan layang),” ungkap Sukhla.

Mengetahui Gunasekar seorang Hindu berkasta tinggi, massa pun menghentikan pukulannya. Mereka hanya merampas ponselnya dan menghapus video yang sudah direkamnya.

“Tidak ada lagi wartawan di sini. Hanya nasionalis dan anti-nasionalis, menurut pemerintah kami,” kata Sukhla. “Dan identitas seperti itu diteruskan sampai habis dan kita berakhir sebagai korban di tangan kerumunan yang terpolarisasi,” pungkasnya. (WST/RS/arabnews)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.