Home Berita Daerah Membakar Uang 200 Milyar dalam Semalam

Membakar Uang 200 Milyar dalam Semalam

450
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Garut–Akhir tahun, identik dengan kembang api. Tradisi ini menjadi sorotan banyak orang, bukan hanya di kalangan ulama saja, melainkan umara juga. Ini terbukti, beberapa kepala daerah melarang warganya menggunakan kembang api di malam pergantian tahun baru.

Misalnya pemkot Banda Aceh, sejak tahun 2017 melarang penjualan kembang api, petasan, hingga terompet. Sama halnya Aceh Barat Daya (Abdya) Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Abdya menghimbau masyarakat di wilayah ini untuk tidak merayakan malam pergantian tahun. Meminta agar seluruh hotel hingga kafe di kawasan Abdya untuk tidak merayakan malam tahun baru 2019.

“Tahun lalu kita berhasil mengawal tahun baru tanpa kembang api, mercon, dan pesta atau hura-hura. Pada malam pergantian tahun baru masehi 1 Januari 2019 nanti kita harus mampu mengulang keberhasilan itu,” Ujar Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, yang dikutip Wasathiyyah.com dari Serambinews.

Larangan menyalakan kembang api di malam pergantian tahun juga dilakukan oleh Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo.

“Tidak ada pesta kembang api dan tidak ada perayaan menyambut tahun baru dengan petasan atau kembang api yang meletus di atas.” Kata Rudy di Solo pada Rabu (19/12/2018) dikutip Wasathiyyah.com dari Kompas.com.

Berkaitan dengan kembang api dan petasan ini, pimpinan Pondok Pesantren Quran Terpadu (PPQT) Darul Fikri Garut, Udo Yamin Majdi mengatakan bahwa ini adalah termasuk perbuatan boros (tabdzir) dan termasuk aktivitas syetan yang Allah sebutkan dalam Quran surat al-Isra [17] ayat 26-27.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Katanya saat memberikan nasehat akhir tahun dalam kajian rutin kitab Riyadush Sholihin di masjid al-Hidayah Perum Pesona Intan Garut.

“Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal.” Kata Udo Yamin mengutip hadits riwayat Imam Muslim. “Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.”

Lebih lanjut lagi, beliau memaparkan, penduduk Indonesia ada 200-an juta lebih dan 35-40 milenial. Menurutnya, jika 10% saja generasi milenial membeli dan membakar petasan atau kembang api itu, maka ada 2 juta orang. Termurah Kembang api roman candle shot 5 size 0,8 Rp. 25.000 dan termahal kembang api air force one shot 600 size 1,2 Rp 12.000.000. Setiap orang dari 2 juta pembeli kembang api rata-rata seharga Rp.100.000, maka dalam semalam kembang api yang dibakar senilai 200.000.000.000

“Jika ada dua juta orang membeli petasan atau kembang api seharga seratus ribu, maka ada uang sebesar dua ratus milyar terbuang secara percuma. Bukankah ini pemborosan?” Kata Ustadz Udo di depan para jama’ahnya.

Beliau menghimbau, agar orang tua, tokoh dan masyarakat, terutama pejabat pemerintah agar menghentikan pemborosan ini, apalagi Indonesia sedang berkabung atas musibah Tsunami Banten-Lampung. Dari pada uang digunakan membeli petasan atau kembang api, sebaiknya uang ini didonasikan untuk para korban bencana.

“Kita harus peka dan peduli. Dari pada uang ratusan milyar itu digunakan untuk membakar kembang api atau petasan dalam semalam, lebih baik uang tersebut di infaqkan kepada saudara kita di Banten dan Lampung yang sedang terkena musibah.” Kata alumni Universitas al-Azhar Tafahna al-Asyraf Mesir itu. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.