Home Berita Daerah Sesepuh PAAM Jabar Undang Anggota Ngobrol Politik

Sesepuh PAAM Jabar Undang Anggota Ngobrol Politik

516
0
SHARE
Foto bersama usai acara ngobrol santai #Politik2019? di Sekelimus, Bandung, Minggu (23/7/2018)

Wasathiyyah.com, Bandung–Dinamika politik jelang Pilpres 2019 menjadi sorotan semua pihak. Hal itu juga menjadi pemicu sesepuh Paguyuban Alumni Al-Azhar Mesir Jawa Barat (PAAM Jabar) KH Benghan Syarifudin untuk mengadakan acara ‘ngobrol’ bertajuk #Politik2019?

Acara yang digelar di Jalan Sekelimus Utara Soekarno-Hatta, Bandung, Minggu (22/7/2018) itu dihadiri para anggota PAAM Jabar yang datang dari berbagai daerah di Jawa Barat.

KH Benghan Syarifuddin atau akrab disapa Aa Benghan mengatakan, dirinya mencoba menginisiasi acara tersebut lantaran adanya keprihatinan komunikasi soal politik di kalangan agamawan terbilang minim.

“Indonesia bangsa yang tidak kecil. Oleh karena itu ungkapkanlah cara pandangnya, cara pengamatannya, cara analisanya menjelang tahun politik 2019. Tentu harapannya semua untuk kebaikan,” kata Aa Benghan.

Aa Benghan menyadari bahwa para alumni Al-Azhar mempunyai pandangan politik berbeda-beda. Namun, terangnya, hal itu menjadi sebuah khazanah dan perbandingan.

“Semakin banyak perbandingan semakin leluasa dan banyak pilihan untuk mengambil sikap. Tapi semakin banyak perbandingan semakin bingung. Yang bingung ‘selamat bingung’, yang pasti selamat pasti,” seloroh Pimpinan Majlis Tarbiyah Garut tersebut disambut gelak tawa para hadirin.

Aa Benghan pun mempersilakan para anggota PAAM Jabar untuk menyampaikan sejumlah analisa dan pandangannya jelang politik 2019.

Mengawali pembicaraan, Sekjen PAAM Jabar Zainurrofieq mengingatkan, di antara pemahaman wasathiyah adalah mensosialisasikan pada masyarakat bahwa politik itu harus dijalani dan dikuasai.

“Kemarin-kemarin pidato agigatif Ketua Umum PBB (Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra, red) sangat viral, ‘kalau kita umat Islam tidak berpolitik maka akan dipolitisir’,” ucap Zainurrofieq menirukan pernyataan Yusril.

Lebih jauh ia menyatakan, ijtihad politik seorang Azhari tidak semata-mata bertujuan bagi kepentingan individu atau politik praktis, tetapi untuk mencapai kemaslahatan lebih besar.

Hal itu ia ungkapkan merujuk pada sikap Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, yang mendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) dua periode.

Namun anggota PAAM Jabar lainnya, Arief Hamid yang terjun ke dunia politik mengaku bangga sebagai Azhary (sebutan bagi para alumni Al-Azhar Mesir, red)

“Azhariyyin jangan hanya bergumul dengan kitab. Ketika negara melarang membaca kitab maka selesai kita. Untuk itu kekuasaan harus dikuasai orang yang ke-Islamannya baik,” cetus Arief.

Anggota DPRD Fraksi Gerindra Kota Bandung itu pun menanggapi yang disampaikan Zainurrofieq soal dukungan TGB terhadap Jokowi. Arief masih mempertanyakan niat Gubernur NTB tersebut apakah semata-mata untuk kemaslahatan atau didasari politik praktis.

“Apakah maslahat ini akan ada ketika TGB tidak mendampingi pak Jokowi, kalimat maslahat masih ada nggak di situ. Ini yang harus kita perhatikan,” bebernya.

Di akhir acara, Aa Benghan memberikan pesan, meskipun berbeda pandangan politik tidak boleh memunculkan sikap-sikap menyudutkan.

“Tidak boleh menghina pemimpin orang lain, karena boleh jadi pemimpin kita akan dihina. Tidak boleh menghina aturan orang lain, maka boleh jadi Islam juga akan dihinakan. Hentikanlah itu,” tandas dia.(WST/YN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.