Home Berita Daerah Dari Panggung Aksi 2019, AMBS Siap Menjadi Sekolah Penggerak

Dari Panggung Aksi 2019, AMBS Siap Menjadi Sekolah Penggerak

166
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Garut–Panggung Aksi 2019, bagi Al-Mashduqi Boarding School (AMBS) Garut, bukan hanya sebatas menampilkan minat dan bakat santri-murid sebelum bagi raport, melainkan ini momentum bagi Yayasan Al-Mashduqiyyah Garut, para pengelola unit, pendidik/pengasuh, santri-murid dan orang tua/wali untuk memiliki mimpi atau cita-cita bersama menjadi sekolah penggerak.

Pada acara yang dikelola langsung oleh organisasi santri-murid Badan Eksekutif Santri (BES) itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong, S.Pd., M.Si. memberikan sambutan. Selain menyampaikan Kebijakan Merdeka Belajar yang dipaparkan oleh Mendikbud Nadim A. Makarim di Hotel Bidakara Jakarta tanggal 11 Desember 2019 lalu, meliputi 4 hal: USBN, UN, RPP dan Fleksibilitas PPDB, Kadisdik Garut menyambut baik AMBS membuka sekolah lanjutan atas, Madrasah Aliyah Unggulan.

“Saya menyambut baik untuk segera membuka sekolah lanjutan atas, SLTA, atau Madrasah Aliyah Unggulan.” Ungkap Totong hari ini (Rabu, 18/12/2019) di Aula AMBS.

Totong juga menegaskan bahwa pendidikan anak bangsa tidak semata-mata tanggungjawab dinas atau pemerintahan, tetapi juga partisipasi aktif orang tua/wali murid dan warga masyarakat agar proses belajar mencerahkan dan memberikan makna dalam kehidupan anak di masanya. Seperti halnya beliau sebagai KADIS, tetap saja di rumah beliau mesti memantau dan mengajak bermain anak-anak usia dini sebagai proses belajar seperti kepala PAUD.

Lebih lanjut, beliau secara simbolis melepas Program Home Stay English Village Pare Kediri para santri-murid AMBS sebanyak 31 orang dengan pembimbing 3 orang dan berharap suatu saat nanti kampung santri atau bahasa Arab ada di kabupaten Garut.

“Selamat jalan kepada santri yang akan mengikuti Program Home Stay ke Pare. Saya berharap suatu saat nanti kampung santri atau bahasa Arab ada di Garut.” Kata Totong di hadapan para peserta dan tamu Panggung Aksi 2019.

Setelah diselingi oleh penampilan bakat santri-murid, sambutan berikutnya, dari Kepala Sekolah Madrasah Aliyah (MA) Unggulan, Rofieq Azhar, S.Ag., MM. Beliau menegaskan bahwa pihak AMBS berikhtiar menjadikan AMBS sebagai rumah kedua bagi peserta didik, setelah rumah orang tua mereka.

“Kami berusaha keras, membangun habituasi ramah anak, sehingga AMBS menjadi rumah kedua, setelah rumah orang tua para santri-murid.” Tandasnya.

Kemudian Rofieq melakukan sosialisasi pembukaan MA Unggulan. Beliau memaparkan proses AMBS menjadi cabang Sekolah Al-Azhar Cairo. Bahkan beliau menceritakan bahwa besok (Kamis, 19/12/2019) Tim AMBS akan melakukan MoU kepada pihak Yayasan Wakaf Cakrawala Insan Azhari di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Mohon do’anya, insya Allah kami besok akan ke Jakarta untuk melakukan MoU, AMBS menjadi bagian dari JAMAI, Jaringan Ma’had Azhary Indonesia.” Pinta Rofieq kepada para hadiran yang hadir.

Sambutan berikutnya dari Ketua Yayasan Al-Mashduqiyyah Garut, H. Arif Bakhtiar, S.Hi. Selain menguatkan proses AMBS menjadi cabang sekolah Al-Azhar Cairo, beliau juga menceritakan sejarah berdiri Yayasan Al-Mashduqiyyah Garut. Lokasi AMBS merupakan tanah kelahiran dari Drs. Dede Syatibi. Mantan bupati Kabupaten Garut periode 1999-2004 itu, sebelum beliau wafat 17 Februari 2018 lalu, memang bercita-cita mendirikan MA Unggulan.

“Kita mendirikan MA Unggulan, untuk merealisasikan impian Bapak Dede Syatibi, bupati Garut ke-22.” Arif Bakhtiar bercerita.

Di penghujung sambutannya, Arif Bakhtiar, menitipkan pesan kepada para santri-murid AMBS untuk tetap menjaga kebiasaan baik selama di pesantren di rumah masing-masing. Manakala di pesantren, sholat berjamaah di masjid sudah biasa, maka di rumah pun demikian. Kalau di pesantren sebelum shubuh sudah bangun untuk tahajud, maka di kampung halaman harus membangunkan orang lain.

Santri-murid, bahkan para guru dan keluarga besar AMBS, harus siap bergerak dan mengerakan, atau dalam istilah Mendikbud Nadim A. Makarim manusia atau guru penggerak. Manakala semua komponen di AMBS menjadi insan penggerak, maka secara otomatis, AMBS menjadi sekolah penggerak.

“Saya berpesan kepada anak-anakku semua, sepulang kalian di rumah, tetaplah kalian menjaga kebiasaan di pondok. Jadilah kalian sebagai penggerak. Begitu pun kepada para guru, jadilah guru penggerak. Kalau kita semua penjadi insan penggerak, maka sekolah kita akan menjadi sekolah penggerak. Siap?” Tanya Arif Bakhtiar kepada para santri-murid dan para guru AMBS. (WST/YNF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one + 17 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.