Home Berita Daerah Karantina Quran 2018 PPQT Mimbar Huffazh, Empat Karakter Generasi Milenial

Karantina Quran 2018 PPQT Mimbar Huffazh, Empat Karakter Generasi Milenial

917
0
SHARE

Wasathiyyah.com, Garut –Selama hampir satu bulan, tepatnya dari tanggal 14 April 2018 sampai 9 Mei 2018, Pondok Pesantren Quran Terpadu (PPQT) Mimbar Huffazh menyelenggarakan Karantina Ujian Quran 2018 untuk siswa-siswi SMAIT Bunyan Indonesia di Pondok Pesantren Quran Terpadu (PPQT) Darul Fikri Garut. Dan kemaren (Rabu, 09/05/2018), acara penutupan karantina, diadakan di Masjid Al-Hammad PPQT Darul Fikri Garut.

Dalam acara penutupan Karantian Ujian Quran 2018 itu, kepala sekolah SMAIT Bunyan Indonesia, H. Zamzam Muharamsyah, Lc., M.Si., mengatakan bahwa karantina ujian Quran, bukan hanya ingin mencapai target hapalan Quran 30 juz, melainkan membangun kebiasaan terus menghapal Quran seumur hidup dan menjadi Quran berjalan seperti rasulullah SAW.

“Menghapal Quran itu lebih mudah dibandingkan dengan menjaga Quran. Oleh sebab itu, out put karantina, kalian bisa menyetorkan hapalan minimal 15 juz, syukur 30 juz. Tetapi outcomenya, kalian terbiasa menghapal Quran seumur hidup. Goalnya, adalah kalian menjadi manusia Qurani.” Kata alumni Universitas Al-Azhar Dimyat Mesir dan magister Universitas Indonesia itu.

Setelah sambutan dari pihak Mimbar Huffazh, pembawa acara Muhammad Husni Mubarok mempersilahkan Pimpinan PPQT Darul Fikri Garut, Udo Yamin Majdi, memberikan kata sambutan.

Menurut Udo Yamin, bahwa ada empat masalah yang dihadapi dunia pendidikan, yaitu masalah moralitas, kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Untuk menjawab empat masalah tersebut, membutuhkan manusia memiliki empat karakter ini: mulia, cerdas, mandiri dan kreatif.

Ustadz muda asal Lampung itu menegaskan bahwa orang yang mulia atau berakhlaqul karimah itu Nabi Muhammad SAW. Beliau menjadi mulia, sebab berakhlaq Quran. Oleh sebab itu, untuk melahirkan manusia berakhlaq mulia, syarat utamanya adalah hapal Quran. Menghapal Quran bukan sekedar menerima, menyimpan dan mengeluarkan ayat-ayat suci Quran di otak, melainkan bagaimana menginstal karakter Quran dalam hati, sehingga terbangunlah karakter atau kebiasaan baik.

Kemudian Udo Yamin menjelaskan, bahwa dalam surat Ar-Rahman (surat ke-55) ayat 2-4, setelah Allah membicarakan Quran, Dia menyebutkan kata “Bayan”. Menurutnya makna “bayan’, adalah bahasa. Siapapun yang menguasai 4 (mendengar, berbicara, membaca dan menulis) keterampilan bahasa tertentu, maka orang itu cerdas, sebab dia sangat memungkinkan untuk mengakses ilmu pengetahuan.

“Kalau kalian hapal Quran tiga puluh juz dan menguasai bahasa asing minimal Arab-Ingris secara sempurna, maka saya sangat yakin, kalian akan menjadi manusia luar biasa.” Ujar Udo Yamin di hadapan 16 santri karantina, para pengajar Mimbar Huffazh, dan jama’ah masjid Al-Hammad.

Lebih lanjut, Udo Yamin mengatakan bahwa kemandirian dan kreatifitas sangat perlu menghadapi era distruption (goncangan akibat hadirnya era masa depan). Mau tidak mau, katanya, siapapun yang ingin survive, maka harus berjiwa entrepreneur dan memiliki keterampilan di bidang information, technology dan comnunikation (ITC). Dua karakter ini, seseorang mampu menjawab masalah kemiskinan dan keterbelakangan.

“Jadi, kalian sebagai generasi milenial, harus menjadi manusia yang mulia, cerdas, mandiri dan kreatif. Standarnya sederhana, kalian hapal Quran 30 juz, menguasai minimal dua bahasa Asing, bisa bisnis, dan menguasai IT.” Pungkas Udo Yamin. (YNF/WST)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + 18 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.