Home BERITA TGB: Bersihkan Ruang Publik dari Hoaks

TGB: Bersihkan Ruang Publik dari Hoaks

294
0
SHARE
Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal Tuan Guru Bajang (TGB), menjadi narasumber Youth Conference Kupang 2018, di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (11/12/2018)

Wasathiyyah.com, Mataram — Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi menjadi narasumber dalam acara Youth Conference Kupang 2018, di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (11/12/2018)

Dalama kesempatan tersebut, tokoh yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) itu menyatakan, berita bohong alias hoaks yang disebar melalui berbagai media membuat anak bangsa saling membenci.

“Nilai agama dan nilai budaya, kalau diaktifkan itu akan jadi filter. Kita akan enggan menyebarkan hoaks yang berlawanan dengan agama dan budaya,” kata dia.

Kegiatan yang digelar Oxfam tersebut bertemakan ‘Kabar Bohong dan Ujaran Kebencian Tidak Keren, Anak Muda Bersama Melawan Kabar Bohong dan Ujaran Kebencian Untuk Indonesia Damai’.

Di hadapan ratusan anak muda seluruh Indonesia, TGB mengatakan, guna menyelesaikan hoaks bisa menggunakan instrumen kultural. Pola tersebut pernah diterapkan di NTB, ketika dilanda pertikaian dan polisi kesulitan melakukan penanganan meskipun sudah menerapkan pendekatan struktural legal.

“Ada semacam balai mediasi yang dibentuk di NTB. Jika ada perselisihan tidak sampai ke aparat, tapi dipakai mediator yang disepakati adat. Upaya tersebut terbukti berjalan lancar,” ujarnya.

Soal hoaks, alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir tersebut memiliki pandangan bahwa Indonesia terdiri dari banyak pulau dengan beragama suku dan bahasa. Keragaman tersebut menjadi ‘intangible’ aset yang tidak terlihat. Hal itu yang menyatukan Indonesia dan merekatkan persaudaraan.

“Saling menghormati, saya orang Lombok muslim tapi saya bersaudara dengan yang Hindu dari Bali dan yang kristen asal NTT,” ujar TGB yang pernah memimpin NTB selama dua periode.

Menurutnya, hoaks sangat berbahaya dan sering membuat anak bangsa jauh dan saling membenci. Padahal semua orang tak pernah dibesarkan dengan saling benci dan mereka pada dasarnya bersaudara.

“Adik-adik rela Indonesia melemah. Rela tidak batinnya saling jauh? Kalau saya tidak rela,” ucap TGB.

Cucu pendiri Nahdlatul Wathan itu menambahkan setelah mendiagnosa dan tahu persentase tentang hoak, harus dipikirkan apa yang harus dilakukan.

Upaya yang harus dilakukan anak muda untuk meredamnya, yakni membangun aliansi kebaikan, memahami etika politik, dan ikuti yang baik. Dan perlu mengecek dengan baik berbagai informasi yang diperoleh dengan berbagai instrumen.

“Seperti ada guna tidak untuk orang lain. Ada hal yang kurang bermanfaat tidak usah disebar, ada yang buat keresahan sosial, itu harus dipikir,” katanya.

“Banyak hoaks yang menyasar. Hal terpenting yang kita miliki yaitu persatuan dan persaudaraan. Saling curiga berujung saling tidak percaya dan saling hujat, akhirnya kita semakin renggang sebagai sesama anak bangsa. Sudahi itu semua,” pesan dia.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abraham Abast menambahkan, dari data berita hoaks disebarkan orang dapat dipercaya 48 persen, mengira bermanfaat 31 persen, 18 persen mengira benar, dan 3 persen tahu namun tetap dibagi kepada orang lain.

“Makanya polisi tidak hanya mengawasi dunia nyata, tetapi dunia maya juga diawasi secara ketat,” pungkasnya.(WST/YN/Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.